Jumat, 14 September 2012

SEBAB MUNCULNYA FIRQOH (Aliran/Faham) DALAM ISLAM



      Kesatuan Aqidah Pada Zaman Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar Bin Khatob

1. Masa Rasulullah SAW

Di tengah-tengah bangsa yang sedang berkecamuk menghebatnya perpecahan di kalangan mereka, Allah SWT, dengan kemurahan-Nya telah mengutus seorang Rasul Nabi penutup dari segala Nabi, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertuju pada tanggal 20 April 571 M.
Dengan datangnya Nabi Muhammad SAW, pada zaman Jahiliyah ini adalah bertugas untuk mengubah dan mengembalikan mereka ke arah kebenaran, baik dalam bidang agama maupun dalam bidang kemasyarakatan.
Di masa Nabi Muhammad masih hidup diantara para sahabat tidak pernah ada yang menanyakan tentang sifat-sifat Allah, sebab kesemuanya telah ada dalam Al-Qur’an. Yang seringmereka tanyakan hanyalah soal-sola ibadat, seperti shalat, zakat, puasa dala lain-lain sebagainya.
Kemudian setelah Nabi Muhammad SAW wafat, maka menginjaklah masa sahabat. Di masa sahabat inilah sebenarnya akan mulai timbul penyelewengan-penyelewengan dalam ketauhidan, misalnya timbul gerakan Musailamah Al-Kazzab, namun berkat kesungguhan para sahabat Nabi, penyelewengan-penyelewengan ini dapat dikikis habis. Karena itu ketauhidan di zaman sahabat baik zaman Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatob, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib masih tetap murni seperrti pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Perpecahan dan bergolong-golong dalam Islam, sejak dahulu telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya :
اِنَّ بَنِيْ اِسْرَائِلَ تَفَرَّقَتْ عَلَي ثِنْتَيْنِ وسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِيْ عَلَي ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوْا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلُ اللَّهِ؟ قَالَ : مَاأَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِيْ (رواه الترمذي)
Artinya :”Bahwasanya bani israil telah terpecah menjadi 72 millah (faham/aliran) dan akan terpecah umatku menjadi 73 aliran, semuanya masuk neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya :”Siapakah yang satu itu ya Rasulullah? Nabi menjawab : yang satu itu ialah orang yang beri’tiqad sebagaimana i’tiqadku dan i’tiqad sahabat-sahabatku.”(H.R. Tirmizi).[1]

2. Sebab-sebab Timbulnya Firqah dalam Islam

Sejak awal, Rasulullah SAW, sudah menggambarkan akan terjadi perbedaan ummat Islam dalam memahami maupun menjalankan ajaran Islam. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits yang bertalian dengan akan adanya firqah- firqah yang berselisih faham dalam lingkkungan ummat Islam. Hadits tersebut diantaranya :

فَأَنَّهُ مَنْ يَعْشِ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِيْ فَسَيَرَي اِخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّتِيْ الْخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ الْمُهْتَدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ (رواه ابو داود)
Artinya : “Bahwasannya siapa yang hidup (lama) diantaramu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin yang diberi hidayat. Pegang teguh itu dan gigitlah dengan gigi gerahammu”.(H.R. Abu Daud).

Adapun firqah- firqah (perbedaan-perbedaan) dimaksudkan di sini dengan masalah keyakinan/aqidah/keimanan/kepercayaan kepada Allah SWT, Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab-kitab Allah, Hari Kiamat, Qodlo dan Qodar Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam rukun Iman.[2]

Faktor-faktor penyebab timbulnya firqah firqah tersebut diantaranya karena : 
  1. Tingkat pengetahuan ummat   
  2. Karena fanatik pada pendapat golongannya
  3. Karena umat Islam sering memutlakan pendapat sendiri atau kelompoknya 
  4. Kurangnya contoh sebagaiman dicontohkan Rasulullah SAW.


Sementara awal timbulnya firqah-firqah itu bermula dari soal kepentingan menyangkut pergantian kepemimpinan setelah Rasulullah SAW, wafat. Terlihat dari kisah yang terjadi setelah Rasulullah SAW menghadap Allah SWT.
  1. Mempelajari ajaran Islam secara benar dapat dilakukan dengan cara-cara mempelajari Islam dari sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah 
  2. Mempelajari Islam secara menyeluruh, tidak sebagian-sebagian 
  3. Mempelajari Islam dari kepustakaan yang tertulis para ulama besar, kaum zu’ama dan cendekia muslim. 
  4. Tidak mempelajari Islam dari kenyataan perilaku umat Islam saja karena belum tentu perilaku umat Islam sesuai dengan ajaran agama Islam.

B. Paham dan Aliran dalam Lapagan Islam
 
1. Paham Khawarij, Murjiah, Qodariyah dan Jabariyah

a. Lahirnya Paham Khawarij
Timbulnya Khawarij setelah terjadinya peperangan Siffin diantara Ali dan Muawiyah. Peperangan itu diakhiri dengan suatu gencatan senjata untuk mengadakan perundingan antara kedua belah pihak.
Golongan Khawarij adalah golongan pengikut Ali yang tidak setuju dengan adanya gencatan senajata dan perundingan, Sebab itulah golongan ini memisahkan diri dari fihak Ali. Maka timbullah Khawarij, suatu golongan yang menentang Ali dan menentang Muawiyah.
Golongan ini yang berkembang dan tersebar ke mana-mana dalam alam Islam pada masa itu. Sehingga inilah salah satu aliran pula yang menjadi opposisi dari pemerintah Umawiyyah kelak, sampi menjadikan sebab jatuhnya Daulah Umawiyah bagian timur.
Fanatisme Islam dan keikhlasan berjuang dan keberanian menghadapi maut yang luar biasa, golongan ini memang dapat dibanggakan, bahkan kebanyakan tokoh-tokoh mereka sangat patuh menjalankan ibadah, sehingga dinyatakan bahwa diantara kode-kode yang digunakan ialah : cahaya yang tampak bersinar di atas dahi mereka, karena seiringnya digunakan untuk berwudhu dan shalat.
Pada umumnya golongan khwarij ini bersemboyan “tiadak ada hukum selain hukum Allah”. Golongan Khawarij ini terdiri dari beberapa aliran lagi, tapi pada garis besarnya fahamnya sama, yaitu sebagai berikut :
  1. Menurut anggapan mereka : Ali, Usman dan orang yang turut dalam peperangan Jamal dan juga orang-orang yang setuju tentang diadakannya perundingan antara ali dan Muawiyah, mereka semuanya dihukumi Kafir 
  2. Setiap orang dari umat Muhammad yang terus menerus berbuat dosa besar, hingga matinya belum taubat, maka dihukumi kafir dan akan kekal masuk neraka. Tapi golongan Najadar, beranggapan hanya kafir terhadap nikmat Tuhan saja 
  3. Boleh tidak mematuhi terhadap Khalifah, bila menurut anggapan mereka Khalifah itu zalim atau khianat
b. Lahirnya Paham Murjiah

Aliran ini timbul di Damaskus pada akhir abad pertama Hijriyah. Golongan ini dinamakan Murjiah, karena lafaz itu berarti menunda atau mengembalikan.
Golongan ini berpendapat bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar itu ia tetap mukmin, tetapi ia tetap berdosa, sedang ketentuan nasibnya terserah kepada Allah kelak di akherat, apakah dimaafkan atas rahmatnya atau disiksa atas keadilan-Nya.

c. Lahirnya Paham Qodariyah

Aliran ini timbul kira-kira pada tahun 70 H. Yang dipelopori oleh Ma’abad Al-Jauhani Al-Bisri, Gailan ad Dimsyqi dan lain-lain.
Faham Qodariyah ini pada hakikatnya bagian dari faham Mu’tazilah, karena imam-imamnya terdiri dari orang-orang Mu’tazilah, akan tetapi sepanjang sejarah persoalan Qodariyah ini merupakan satu soal yang besar juga yang harus menjadi perhatian. Timbulnya aliran Qodariyah ini di Irak pada zaman pemerintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Aliran ini berpendapat, bahwa manusia itu mempunyai kekuasaan mutlak atas dirinya dan segala amal perbuatannya. Dengan kemauan dan kekuasaan sendiri, manusia dapat berbuat baik atau buruk dengan tidak ada kekuasaan lain yang memaksanya. Dasar fikiran ini adalah adanya ketentuan pahala dan siksa, bagi mereka yang berbuat baik akan mendapat pahala dan mereka yang berbuat dosa akan mendapat siksa.

d. Lahirnya Paham Jabariyah

Aliran jabariyah adalah golongan yang menentang gerakan Qodariyah. Yang mula-mula membangun gerakan ini adalah Jaham bin Syafwan, makanya gerakan ini sering disebut Jahamiyah. Jahamlah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sesuatu, sesunguhnya Allah sajalah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, baik dia yang dikehendaki atau tidak.
Pendapat-pendapat golongan ini diantaranya adalah :
  1. Surga dan Neraka itu tidak abadi, yang abadi hanyalah Tuhan saja 
  2. Tuahan Allah tidak dapat dilihat kelak di akhirat 
  3. Tuhan itu tidak boleh mempunyai sifat-sifat yang bersamaan dengan makhluk, tuhan tidak boleh dinyatakan mempunya sifat hayat, sebagaimana juga tidak boleh dinyatakan, bahwa tuhan itu mempunyai sifat mati. 
  4. Qur’an itu adalah sebagi makhluk Allah yang dibuatnya (artinya Hadits : Baru). 
e. Aliran Mu’tazilah dan Ahlussunnah Wal-Jama’ah

a.  Mu’tazilah

Pembangunan aliran ini adalah Abu Khuzafah Wasil Bin Ato’ Al-Ghazali. Timbulnya di zaman Abdul Malik bin Marwan dan anaknya Hisyam bin Abdul Malik. Golongan ini dinamakan Mu’tazilah, karena wasil itu memisahkan diri dari gurunya Al-Hasan Al-Basyri, karena perbedaan pendapat tentang orang Islam yang mengerjakan maksiat dan dosa besar, hingga mati ia belum juga tobat. Dalam masalah ini golongan Mu’tazilah menganggap mereka tidak mukmin dan tidak kafir, tetapi Manzilah baina Manjilatain.
Sebagai keringkasan ajaran Mu’tazilah ini adalah sebagai berikut :
  1. Oarang Islam yang mengerjakan dosa besar, sehingga matinya belum taubat, maka orang itu dihukumkan tidak kafir dan tidak mukmin, tapi antara keduanya itu (Manzilah baina Manjilatain) 
  2. Tentang Qodar, mereka berpendapat sesungguhnya bukanlah Allah menjadikan segala perbuatan ini, tetapi makhluk sendirilah yang menjadikan dan mengerjakan segala perbuatannya. 
  3. Tentang ketauhidan, Mu’tazilah menafi’kan Allah bersifat dengan sifat-sifat yang azali dari ilmu Qudrot, Hayat dan sebagainya selain Zat-Nya saja, bahkan Allah tu bersifat Aliman, Qodiron, Hayan, Sami’an, Basiran dan sebaginya dalah dengan Zat-Nya demikian. 
  4. Tentang akal, yaitu manusia dengan akalnya dapat mengetahui yang baik dan yang buruk, sekalipun tidak diberikan oleh syara’. 
  5. Tentang janji dan sanki itu pasti terlaksana, janji dengan pahala sanki dengan siksa, janji menerima taubat, Tuhan tidak akan memaafkan dosa besar tanpa taubat tidak akan menutupi pintu pahala bagi orang yang akan bertaubat dan akan berbuat kebaikan.
b. Pemahaman aliran Ahlussunnah Wal-Jama’ah

Timbulnya golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah ialah pada abad III hijriyah. Pelopornya ialah dua orang ulama besar dalam bidang ushuludin, yaitu syekh Abu Hasan Ali Al_asy’ari dan Syekh Abu Mansur Al-Maturidi. Golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah ini timbul sebagai reaksi terhadap firqah-firqah yang sesat. Perkataan Ahlussunnah Wal-Jama’ah kadang-kadang dipendekan penyebutannya denganAhlussunnah Wal-Jama’ah atau Sunni saja dan kadang-kadang disebut Asy’ariyah, dikaitkan pada guru besarnya yang pertama kali : Abu Hasan Ali Al-Asy’ari. Dasar timbulnya aliran Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah ayat Allah Al-Qur’an dan Hadits Nabi dasar ayatnya adalah :

Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”(Q.S. At-Taubat : 100).

Adapun pokok-pokok ajaran aliran Ahlussunnah Wal-Jama’ah antara lain :
1. Allah SWT, memiliki sifat-sifat wajib, Mustahil dan Zaij
2. Tentang melihat Allah, Ahlussunnah Wal-Jama’ah berpendapat bahwa Allah SWT, akan dapat dilihat di akhirat, berdasarkan firman-Nya :

Artinya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat.” (Q.S. Al-Qiyyamah : 22-23).

3. Tentang syarat, Sirotul Mustaqim, mizan dan Had, Ahlussunnah Wal-Jama’ah mengakui adanya syafaat, Sirotul Mustaqim dan Had

1 komentar:

  1. MOHON PENJELASAN-PENJELASAN SEPUTAR FAHAM AHLUSSUNNAH WAJJAMA'AH LEBIH DI INTENSIFKAN BERIKUT LANGKAH-LANGKAH NYATA BERUPA AMALIYAH DI DALAM KEHIDUPAN BISA DI AMALKAN, MENGINGAT FIRQOH-FIRQOH YANG SEDANG MNGGEROGOTI ORANG-ORANG YANG MENGAKU AHLUSSUNNAH WAL-JAMA'AH SUDAH MASUK DI TENGAH-TENGAH KITA, INI BERBAHAYA. CEPAT ATAU LAMBAT PASTI AKAN TERJADI HAL-HAL YANG TIDAK DIINGINKAN.

    BalasHapus